Kamis, 21 April 2016

Saatnya Perempuan Diberi Kesempatan Pimpin Parlemen


REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -– Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mohamad Sohibul Iman mengapresiasi tinggi keberadaan perempuan untuk memimpin parlemen. Ini menjadi salah satu alasan mengusulkan Ledia Hanifa untuk menduduki posisi Wakil Ketua DPR RI.
“Saya kira layak karena kepimpinan seperti etalase. Tidak bisa sembarangan kriterianya. Sebab, yang bersangkutan juga mempunyai kapabilitas untuk menjalankan fungsi,” kata Shohibul di Kantor DPP PKS, Selasa (19/4).
Pria yang juga disapa Kang Iman ini mengatakan menjadi pimpinan parlemen memerlukan ketrampilan mengendalikan anggota. Kapasitas kepemimpinan harus ada pada sosok pimpinan DPR.
“Kalau kita tempatkan orang yang tidak punya kepemimpinan, nanti sulit. Ledia sudah terbiasa memimpin karena wakil ketua komisi,” ujar dia.
Dia mengungkapkan Ledia dilihat secara kapabilitas itu luar biasa, sangat aktif dalam beragam kegiatan baik skala nasional ataupun internasional. Pemahamannya terhadap sebuah permasalahan pun sangat mumpuni. Hal ini terlihat selama dua periode di parlemen, Ledia selalu membawahi bidang kesejahteraan rakyat.
“Saya kira Ledia sangat memahami tentang portofolio wakil ketua bidang Kesra. Hal itu menjadi salah satu pertimbangan, selain integritas,” kata dia.


PKS: Peran Perempuan Bukan Sekadar Dapur, Kasur, Sumur


REPUBLIKA.CO.ID, MEDAN -- Peringatan Hari Kartini diharapkan bukan sekadar seremonial, melainkan momentum untuk meningkatkan produktivitas dan inovasi bagi kalangan perempuan di Tanah Air.
Ketua Bidang Perempuan dan Ketahanan Keluarga DPW PKS Sumatra Utara, Fitri Gustiana mengatakan, peran Kartini sesungguhnya adalah mencerdaskan perempuan pada masanya. Kartini membuka paradigma berpikir baru bagi kaum perempuan yang pada zaman itu agar kaum perempuan mempunyai peran besar dalam seluruh aspek kehidupan masyarakat.
"Peranan perempuan bukan sekedar di dapur, kasur, dan sumur," ujarnya di Medan, Rabu (20/4).
Perempuan, menurut dia, sama halnya seperti kaum laki-laki yang mempunyai potensi dan kiprah yang sama sebagai agen perubahan di tengah masyarakat. Manfaat dari peran kaum perempuan tersebut akan semakin bermakna karena dari segi kuantitas, jumlahnya jauh lebih besar daripada laki-laki.
"Jika perempuan Indonesia mampu mengoptimalkan perannya di berbagai aspek kehidupan, maka kemajuan bangsa ini berada di pundak perempuan," kata Fitri.
Ia mengatakan, untuk memiliki peranan yang lebih besar, kaum perempuan tidak cukup hanya mengandalkan kuantitas yang banyak, melainkan harus diimbangi dengan kualitas dan keterampilan yang dapat digunakan untuk meningkatkan produktivitas.
Di Indonesia, masih banyak perempuan yang belum mendapatkan pendidikan layak karena berbagai faktor penghambat, seperti nilai-nilai budaya dan ekonomi. Dari segi budaya, ada pandangan bahwa perempuan sebaiknya hanya menjadi ibu rumah tangga.
"Ini yang menyebabkan langkah untuk maju dan berkarya semakin terbatas," katanya. Sedangkan dari segi ekonomi juga menyebabkan peluang kalangan perempuan terbatas untuk mengenyam bangku pendidikan yang layak.
Tidak sedikit, para orang tua yang memiliki perekonomian terbatas lebih mementingkan anak laki-laki untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik. "Sehingga dengan pendidikan yang minim dan skill yang tidak memadai, membuat banyak perempuan terjerumus ke lembah hitam," katanya.
Meski kondisi yang tidak menguntungkan, ia mengharapkan kalangan perempuan Indonesia untuk berkaca dari perjalanan sejarah Kartini yang mampu terus berproduksi dan berprestasi di tengah minimnya kesempatan perempuan berkarir. Kalangan perempuan Indonesia diharapkan mampu memanfaatkan kesempatan yang ada dengan maksimal.
"Dengan demikian, akan lahir 'Kartini-Kartini' muda yang berprestasi dan produktif di segala bidang," ujar Fitri.
Sumber : Antara

kaos ukuran besar XXXXXL
Saatnya Perempuan Diberi Kesempatan Pimpin Parlemen
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

1 komentar: