Selasa, 28 Februari 2017

Cara Keluarga Kami Memandang Nilai Akademis

Cara Keluarga Kami Memandang Nilai Akademis

Oleh
Muchlisin BK

Abi… aku nggak mau remidi,” Miqdad merajuk. Meskipun dapat nilai 100 untuk lima pelajaran, PKN tema 3 hanya dapat nilai 71.
Anak kedua kami ini tak mau masuk sekolah untuk remidi di saat banyak temannya libur.
Segera kami ajak dialog. Saya dan istri berusaha menenangkannya, bahwa remidi itu biasa. Masuknya juga cuma sebentar. Malah asyik bisa bertemu teman-teman di sekolah.
“Miqdad tidak perlu remidi karena nilainya sudah di atas 70,” kabar dari sekolah itu membuatnya tersenyum. Ia pun bebas beraktifitas di rumah sejak Sabtu lalu.
“Abi… hafalanku kurang cepat. Teman-teman sangat cepat,” Nida, anak pertama kami, melaporkan perkembangan tahfizh-nya.
Saya dan istri memahamkan bahwa menghafal tidak harus cepat-cepat. Yang penting berusaha dan berdoa. Allah yang akan memberikan pertolongan-Nya. Padahal hafalan saya juga tidak sebanyak Nida yang sudah 20 juz.
“Juara 1 dari banat, Nida’us Salma kelas 7B,” pengumuman dari atas panggung Ajang Kreasi dan Apresiasi Siswa SMPIT Al Ibrah itu mengejutkan saya. Nida berhasil meraih juara 1 Musabaqah Hifzhil Quran dari banat.
“Kemarin Nida sempat ragu-ragu, alhamdulillah ternyata juara. Hafalan Nida sebenarnya sangat cepat namun kadang kurang fokus,” kata Ustazah menjelaskan saat saya mengambil raport Nida.
***
Alhamdulillah… kami tidak pernah khawatir dengan prestasi akademis anak-anak. Kami pun tidak pernah menuntut mereka menjadi juara kelas di bidang akademik.
Sewaktu sekolah, saya hampir selalu menjadi juara kelas, bahkan sekolah. SD dan SMP selalu ranking satu. Mewakili SD di ajang siswa teladan di tingkat kecamatan dan mewakili SMP di ajang siswa teladan tingkat kabupaten. Juga mendapatkan beberapa beasiswa.
Saat SMA, mungkin mulai menjadi titik balik. Berprestasi di bidang akademis ternyata menyisakan kebingungan. Saya mendapat nilai-nilai bagus dalam teori, namun skill saya rendah.
Ketika di perguruan tinggi, pertanyaan serupa juga membayangi. Apa yang bisa saya lakukan dengan nilai bagus? Alhamdulillah kemudian saya mulai fokus ke skill. Dengan landasan karakter yang timbuh di atas iman, tentu saja.
SMA, saya mulai mendalami agama. Lalu berkembang cukup baik saat kuliah dengan masuk ma’had. Mungkin itu cara Allah menanamkan karakter berbasis iman.
Skill sosial banyak saya dapatkan ketika aktif di sejumlah organisasi di kampus. Sedangkan skill profesi banyak saya dapatkan -di samping yang basic di perkuliahan- melalui membaca, pelatihan dan eksperimen. Alhamdulillah Allah memudahkan belajar cepat.
Belajar dari pengalaman itu, kami tidak pernah menuntut anak-anak menjadi juara akademis. Kami lebih suka anak-anak belajar dengan enjoy. Menikmati setiap proses perkembangan dan pertumbuhan.
Bukan berarti nilai akademis tidak penting. Namun kami menanamkan bahwa nilai akademis bukan segala-galanya. [Muchlisin BK/BersamaDakwah]
Kemenkeu: Ada Potensi Pemborosan Anggaran Rp 8,7 Triliun di 2017

Kemenkeu: Ada Potensi Pemborosan Anggaran Rp 8,7 Triliun di 2017

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) melalui Direktorat Jenderal Perbendaharaan telah melakukan evaluasi anggaran atau spending review di 2017. Hasilnya, masih ada potensi pemborosan uang negara sebesar Rp 8,7 triliun di tahun ini, sedangkan tahun lalu realisasinya mencapai Rp 50 triliun.
Dirjen Perbendaharaan Kementerian Keuangan, Marwanto Harjowiryono mengungkapkan Kemenkeu melakukan evaluasi anggaran 2017 dengan harapan mengidentifikasi efisiensi belanja K/L yang mungkin bisa dihemat pada tahun ini.
Evaluasi belanja atau pengeluaran K/L tersebut, sambungnya dilakukan kepada seluruh Satuan Kerja (Satker) K/L dan seluruh Kantor Wilayah (Kanwil) Ditjen Perbendaharaan sejak Desember 2016 sampai Januari 2017.

"Melalui spending review ini, dihasilkan adanya potensi celah fiskal (efisiensi dari inefisiensi) sebesar Rp 8,7 triliun di 2017 didominasi anggaran perjalanan dinas, khusus paket meeting dan honorarium," kata Marwanto saat Rakornas Pelaksanaan Anggaran K/L di kantornya, Jakarta, Selasa (27/2/2017).
Lebih jauh dijelaskannya, potensi pemborosan di tahun ini lebih kecil dibanding potensi tahun lalu senilai Rp 9,6 triliun. Akan tetapi realisasi pemborosan untuk tahun anggaran 2016 mencapai Rp 50 triliun.
"Inefisiensi di 2016 sebesar Rp 50 triliun. Memang potensi inefisiensi di 2017 terjadi penurunan signifikan. Dengan begitu, spending review ini bisa menjadi wahana evaluasi dalam pelaksanaan anggaran berikutnya," Marwanto menuturkan.
Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati memastikan tidak akan ada pemotongan anggaran di 2017 meskipun sudah ada indikasi inefisiensi anggaran sebesar Rp 8,7 triliun.
"Spiritnya tidak memotong anggaran. Alokasi sudah dilakukan, jadi menggunakan anggaran untuk tujuan lebih baik dan konsisten dengan tujuan masyarakat adil dan makmur. Dari bahan itu, kita lihat efisiensi apa yang bisa digunakan untuk kegiatan lebih baik dan perekonomian nasional di 2017," tandasnya. (Fik/Gdn)